QS. Al-Ashr: 1-3

Saling Mengingatkan Dalam Kebaikan

Advertisements

Tak Kenal? Maka Ta’aruf

Bismillaah

“Saya sangat setuju jika tidak adanya pacaran, menurut saya kok ngga ada manfaatnya sama sekali dan ternyata ada banyak hikmah yang bisa kita petik kalo ngga nelakuin pacaran. Ngapain pacaran? Nggak ada jaminannya juga bisa melanggengkan hubungan. Kalo pacaran yang dilihatin cuman kebaikannya aja, padahal manusia kan ngga ada yang sempurna, pasti ada khliaf-nya. Baru keliatan sifat seseorang kalo sudah serumah..” begitulah ungkapan sederhana yang terlontar dari dosen muslimah saya pada suatu kesempatan. Asyik juga punya dosen yang punya ilmu agama yang ngga bisa diremehin. 🙂

Merupakan pilihan jika memang kita tidak melakukan hal yang biasa dilakukan oleh remaja seusia kita. Setelah saya paham akan adab pergaulan lawan jenis, saya berketad untuk mempraktekkannya. \^,^/ bismillaah saja.
“Kalo ngga pacaran terus gimana donk kenal sama calon suami kita??” mungkin ada yang tanya seperti ini.

Awal proses syar’i untuk mengenal pasangan langkah pertama dinamakan ta’aruf. Yang mana dipertemukannya antara ikhwan dan akhwat dengan tujuan yang mulia untuk menyempurnakan agama, perlu dicatat dalam proses ini ikhwan akhwat tidak berduaan, akan tetapi bisa ditemani oleh mahrom bisa dari salah satu pihak. Bisa juga tidak dipertemukan akan tetapi, mengenal dari ‘rekomendasi’ kerabat maupun ustadz/ah 😀 *kalo dipertemukannya saat khitbah(meminang).

Dalam memilih calon pasangan hidup bukanlah seperti membeli kucing didalam karung. Ngga usah dibuaat bingung, Allah sudah mengaturnya masalah ini. Sebelum seorang ikhwan menikahi akhwat dan sebaliknya seorang akhwat mau menikah dengan ikhwan. Tentunya keduanya harus mengenal satu sama lain, tapi cara pengenalan disini tidak seperti yang dilakukan oleh mereka yang kurang paham terhadap syariat Allah, yakni menghalalkan pacaran atau pertunangan dalam rangka (katanya) ajang saling mengenal padahal penjajakan calon pendamping hidup. -_-*tepok jidat* 😀

Yang dimaksud mengenal calon pasangan adalaha mengetahui, siapa namanya, asalnya, keturunannya, keluarganya, akhlaknya, agamanya, dan informasi lainya yang dibutuhkan. Cara ini bisa ditempuh dari pihak ketiga, yakni bisa melalui guru ngaji, kerabat, sahabat maupun teman. Asal ngga japri (jaringan pribadi) yak? Hehe. eh?

Nasihat yang saya dapat dari saudari yang lebih dahulu melakukan ta’aruf, “Jauh-jauh hari sebelum melangsungkan ta’aruf dengan ikhwan sebaiknya kita menyiapkan list pertanyan-pertanyaan agar mengetahui karakter ikhwan tersebut sehingga lebih memudahkan kita melanjutkan proses ta’aruf..”

Beberapa list pertanyaan yang dimaksud ialah apa yang dilakukan ketika marah, hal apa yang membuat marah,hal apa saja yang biasa dilakukan, apa makanan kesukaan, kalo punya istri sukanya yang bagaimana (dirumah mendidik anak2/kerja), kriteria istri yang diharapkan, visi dan misi menikah, gambaran grancangan finansial untuk anak, konsep mendidik anak, pandangan mengenai poligami, dst.

Nasehat Ustadz Ahmad Gozali untuk muslimah jika ada ikhwan mengajak ta’aruf, “Jangan lihat siapa dirinya sekarang, tetapi lihatlah potensi yang dimilikinya. Bisa jadi ia, si calon akan menjadi jauh lebih besar dari sekarang. Jangan dilihat juga seberapa besar penghasilannya tetapi seberapa besar tanggungjawabnya dalam mengusahakan nafkah untuk istri dan anaknya kelak. Kerena besar tanggung jawabnya bukan tidak mungkin akan lebih memotivasi dalam mencari penghasilan yang lebih baik lagi.

Yang perlu diingat dan kita praktekkan ketika (nanti) ta’aruf baiknya kita menjaga dan membatasi interaksi dengan ikhwan tersebut melalui sms, BBM, WA, inbox fb, telfon, dst. Maskipun telah berstatus ta’aruf, ini masih langkah awal lho. Jangankan ta’aruf yang sudah menerima khitbah saja masih harus menjaga interaksi. Yak, demi mencegah terjadinya fitnah. Sabar dikit yak? Belajar dari sahabat saya yang beberapa waktu lalu ta’aruf, beliau berprinsip jika calon suaminya ingin menghubunginya tidak langsung melalui sms maupun telfon akan tetapi melalui perantara yaitu orangtua calon suami. Yak, tak ada tujuan lain untuk menjag agar tidak terjadi fitnah yang tidak diinginkan.

Semoga bisa memberi manfaat. Sekarang kan sudah tahu ilmunya,,, selamat mengamalkan yak? #ukhtifillah 😀 ^0^ ditunggu undangannya :)) 😛

Bumi Allah,

Layla 30/4/2014

Ma’roji’

http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/29/pernikahan-menurut-islam-dari-mengenal-calon-sampai-proses-akad-nikah/

– Catatan pribadi

Perisai Seorang Pelajar

Bismillah..

Ukhty pasti pernah atau bahkan sering yah ditanya mengenai sesuatu ilmu, lalu sebetulnya kita gak terlalu paham banget..
nah di sini Annisa akan bahas gimana adabnya ketika terjadi demikian 🙂
Check this out~~ 

Perisai seorang ulama adalah ucapan “saya tidak tahu.” Tirainya akan dirobek oleh kesombongan tidak mau mengucapkannya, juga ucapan “katanya”. Berdasarkan prinsip ini kalau setengah ilmu adalah ucapan “saya tidak tahu”, maka setengah kebodohan adalah ucapan “katanya atau saya kira”

Oleh karena itu ukhty, kita wajib berkata “saya tidak tahu” apabila memang tidak tahu atau kurang paham, hal ini tidak akan membahayakan, bahkan akan menambah kepercayaan orang lain kepadanya.

Sebagian orang awam banyak yang ditanya hukum halal atau haram? Dia menjawab: “Saya kira ini haram.” Lalu bolehkah kita percaya kepada ucapan orang awam? Tidak boleh ukhty.. karena tidak ada dalil yang jelas..

Semoga diri kita terbebas dari fatwa fatwa oleh diri sendiri maupun orang awam dengan fatwa yang salah 🙂 aamiin

Wallahu a’lam bish shawab ~~

*Sumber: KItab Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin

~Prioritas Bacaan~

Bismillah..
Kali ini Annisa akan review tentang prioritas dalam membaca ^^ Nah, coba deh kita ingat ingat, seringnya kita baca buku apa, novel kah? (:p) buku politik kah? hehe, ternyata ukhty.. kita perlu banget mengatur aktivitas membaca ini dengan mendahulukan apa yang perlu kita prioritaskan untuk dibaca, supaya waktu kita dapat bermanfaat, dan lebih bernilai..

Berikut ini ulasannya, check this out..
Prioritas Pertama, Al Qur’an,
membacanya bernilai ibadah apalagi kalau kita juga mengajarkannya. Intinya, Al Qur’an menempati prioritas tertinggi dalam daftar bacaan seorang muslim/muslimah. dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Bacalah (khatamkanlah) Al-Quran setiap bulan.” ‘Abdullah bin ‘Amr menjawab: “Aku mampu lebih dari itu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bacalah (khatamkanlah) Al-Quran setiap tiga hari sekali.” (HR. Abu Dawud no 1391. Lihat Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1258). Sebetulnya ini tidak terlalu sulit apabila kita meluangkan waktu sejenak sebelum atau setelah sholat fardhu sekitar 15 menit yang memungkinkan untuk membaca dua lembar, maka dalam sehari akan mendapatkan 10 lembar, yang kalau dihitung berarti telah membaca satu juz atau cara lainnya harus menyediakan waktu-waktu khusus tiap harinya seperti usai sholat maghrib, atau setelah sholat shubuh untuk membaca Al Qur’an.

Prioritas Kedua, Al Hadits,
Sumber hukum kedua setelah Al Qur’an adalah hadits oleh karena itu menjadi agenda pokok seorang muslim/muslimah. Dengan membaca satu hadits saja, kita akan mendapatkan ilmu, pengetahuan, dan hikmah yang sangat banyak. Kita dapat memulainya dari Hadits Arba’in karangan Imam Nawawi, lalu Riyadhus Shalihin (juga karangan Imam Nawawi). Kemudian, bisa juga membaca Lu’lu wal Marjan, yakni hadis yang disepakati oleh dua Imam (Imam Bukhari dan Muslim). Bisa juga intisari hadits Imam Bukhari dan Muslim.

Prioritas Ketiga, Ilmu-ilmu Syar’i,
Ilmu-ilmu Islam sangat banyak. Bacalah seluruh cabang-cabang ilmu syariah. Sebab, hal ini akan mewariskan kepada kita warisan yang indah dan membangun pondasi kuat yang memungkinkan kita bisa membangun di atasnya bangunan yang besar, Insya Allah. Buku-buku syariah meliputi: Intisari Tafsir Ibnu Katsir. Buku ini merupakan buku tafsir Al Qur’an yang bagus. Ia memiliki keistimewaan sederhana dalam susunan kata dan memiliki ungkapan sangat mudah. Kita bisa mulai dari tafsir Juz Amma dan surah Tabarak, kemudian dilanjutkan dengan membaca tafsir surah-surah lainnya yang sudah kita hapal. Fiqhus Sunnah, karya Sayyid Sabiq. Juz pertama membahas tentang hukum shalat, zakat, puasa, dan haji. Hal tersebut sangat penting bagi kita agar dapat melaksanakan ibadah secara benar sesuai perintah Allah. Muhtashar Minhajul Qashidin, karya Ibnu Qudamah (di Indonesia diterbitkan dengan judul Minhajul Qashidin) adalah kitab yang sangat bagus. Buku tersebut membahas tentang masalah ruhiyah, penyakit-penyakit hati, cara penyembuhannya, serta memuat sebagian bahaya dari akhlak, seperti marah, bakhil, dan sebagainya. Selain itu, juga dibahas mengenai bagaimana bertaubat, bagaimana mencintai Allah, dan bagaimana agar Allah Mencintai kita. Khuluqul Muslim, karya Muhammad Al Ghazali. Judul Indonesianya, Akhlak Seorang Muslim. Buku tersebut merupakan buku yang sangat menarik yang berbicara mengenai akhlak asasi yang harus dimiliki seorang muslim. Judul-judul buku di atas hanya contoh sekilas saja. Masih banyak buku-buku bagus lainnya yang juga sangat penting.

Prioritas Keempat, Buku-buku yang Sesuai dengan Spesialisasi Ilmiah,
Tertentu Kebanyakan orang-orang yang berkomitmen dengan agama, masih kurang perhatiaannya dalam masalah ini. Membaca dalam bidang spesialisasi tertentu sangat penting guna meraih tujuan. Seorang dokter harus membaca masalah kedokteran, akuntan harus membaca tentang akuntansi, ekonom harus membaca buku-buku yang membahas tentang masalah ekonomi dan keuangan. Jadi, kita dapat memiliki pemahaman yang menyeluruh, baik dari sisi syariah maupun sisi keduniaannya.

Prioritas Kelima, Buku tentang Analisis Sejarah
Sejarah sangat penting dan cukuplah sebagai bukti hal itu bahwa sepertiga Al Qur’an adalah sejarah. Sepertiga Al Qur’an berbicara tentang sejarah zaman dahulu, yang tujuannya jelas, yakni mengambil ibrah, tafakur dengan kejadian, dan mengambil intisari dari sunnatullah dalam penciptaan-Nya di muka bumi. Beberapa contoh dari buku-buku tentang sejarah ini telah disebutkan sebelumnya, pada bagian buku tentang ilmu-ilmu syar’i. Di antaranya adalah Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, buku Sirah karangan Ibnu Hisyam, Fiqhus Sirah karya Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, dan Fiqhus Sirah karya Muhammad Al-Ghazali, serta buku-buku tentang sejarah Rasulullah lainnya. Untuk sejarah Khulafa’ur Rasyidin ada buku ‘Itmamul Wafa fi Siratil Khulafa’ karya Muhammad Al-Khudhari Bek dan lain lainnya.

Prioritas Keenam, Buku tentang Politik
Yang ini bisa dicari sendiri, sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Yang termasuk prioritas ini juga meliputi mengikuti berita harian dengan cepat dan selalu memperhatikan berita yang berbeda-beda, baik milik pemerintah maupun milik oposan, dalam dan luar negeri, yang Islami maupun yang non Islami, dsb. Ketika membaca berita-berita tersebut, harus dibarengi rasa waspada akan berita yang menyesatkan serta jauh dari fakta. Usahakan untuk membandingkan antarberita yang satu dengan yang lain. Secara perlahan, kita akan bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang nyata dan yang mengada-ada. Biasanya hal ini (membedakan berita yang nyata dan yang mengada-ada tersebut ) akan lebih mudah dengan berbagi informasi dengan orang yang dapat dipercaya.

Prioritas Ketujuh, Buku tentang Pendapat Orang Lain
Hikmah adalah barang yang hilang dari orang mukmin. Di mana saja ia memperoleh, maka ia adalah orang yang paling berhak untuk mengambilnya. Kita sangat perlu membaca buku-buku orang lain, buku-buku yang dimaksud di sini adalah buku di luar Islam. Hal ini supaya kita tahu, bagaimana arah pemikirannya, apa saja dalil-dalilnya, serta bagaimana pendapatnya. Akan tetapi, dalam membaca buku-buku ini, sebaiknya kita didampingi seorang yang memiliki ilmu sebagai pembimbing, serta kita juga wajib mencari tahu biografi penulisnya maupun trackrecord penerbitnya agar kita tidak larut dalam arus pemikiran mereka.

Prioritas Kedelapan, Buku tentang Syubhat Seputar Islam
Banyak sekali syubhat seputar Islam sejak turun wahyu hingga sekarang. Hal yang kita tahu dan kita yakini, bahwa Islam adalah agama yang sempurna, tanpa ada cacat dan salah. Sebab, Islam bersumber dari Rabb semesta alam. Namun, kita sering kehabisan dalil yang memuaskan untuk membantahnya dan kita juga sering bersikap bodoh dengan kebenaran yang kita yakini. Pada zaman sekarang ini, banyak sekali syubhat tentang agama kita yang agung ini. Beberapa di antara syubhat-syubhat tersebut muncul dengan cara diadakan muktamar yang mengeluarkan biaya sangat besar serta penyusunan kekuatan yang sangat besar dan jumlahnya banyak. Karena itu, kewajiban kita adalah membantah seluruh syubhat ini dan memberi hujjah dengan hujjah, dan bukti dengan bukti.

Prioritas Kesembilan, Buku tentang Pendidikan Anak
Dalam mendidik anak, kita perlu memiliki ilmu dasar dan seni. Di antara buku tentang hal ini adalah, Tarbiyatul Aulad fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam) yang ditulis oleh Abdullah Nasih Ulwan. Di samping buku tersebut, tentu banyak pula buku yang ditulis oleh pakar pendidikan tentang kejiwaan anak dan kebutuhannya.

Prioritas Kesepuluh, Buku tentang Hiburan
Di samping sembilan prioritas di atas, pasti masih ada obyek-obyek penting lainnya yang perlu kita baca. Prioritas terakhir ini adalah bacaan hiburan. Kita tidak dilarang untuk menggunakan sebagian waktu kita untuk membaca bacaan yang bersifat hiburan. Akan tetapi ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam memilih bacaan yang bersifat hiburan : Tidak keluar dari aturan Islam. Misalnya, tidak membaca cerita yang tidak sopan dan tidak berakhlak yang mendorong untuk melakukan perkara yang hina. Selain itu, tidak pula membaca syair yang berakibat dosa.

Itulah sepuluh prioritas yang bisa digunakan dalam memanage bacaan. Dan yang lebih penting dari sepuluh prioritas tersebut, yaitu kita membaca. Percuma jika kita hanya membuat prioritas tanpa melaksanakannya. Baca, ayo baca!!! Semoga bermanfaat. “Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Semoga kita senantiasa diridhoi Allah.. Aamiin.. :”)

Sumber: http://www.fimadani.com/10-prioritas-buku-bacaan-untuk-kaum-muslimin/

Perbaiki Diri

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Kebiasaan para ulama terdahulu adalah menulis nasehat satu sama lain dengan kata-kata semacam ini: Barangsiapa yang memperbaiki hatinya, maka Allah akan memperbaiki kondisi lahiriyahnya. Barangsiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia. Barangsiapa yang beramal untuk akhiratnya, maka Allah akan mencukupkan baginya urusan dunianya.”.

— Ibnu Taimiyah rahimahullah

Karya, Asa & Taqwa

..::menulislah::..

...keep on writing and you'll find a paradise...

Umm Abdillaah

Menggapai Keshalihahan dengan Ilmu Syar'i dan Akhlaq

Rumah Annisa Irmaza

Karya, Asa & Taqwa